news

04.10.2017 3:44 PM - MEIER BUDJANA GROUPNICOLAS MEIER guitar • DEWA BUDJANA guitarJIMMY HASLIP bass • ASAF SIRKIS drums • SAAT SYAH flute TOUR DATESOctober...
30.07.2017 12:03 AM - Motion Blue Jakarta...
05.07.2017 10:47 AM - August 23, 2017, 8:00 pm to 9:15 pm, 10:15 pm to 11:30 pmPaul McCandless and Charged ParticlesMotion Blue Jakartawith Special...
26.02.2017 1:32 PM - Feat:  Shadu Rasjidi, Demas Narawangsa, Marthin Siahaan, Irsa Destiwi, Rega Dauna, Saatsyah...
22.11.2016 10:43 AM - db will perform all tunes from his newest (double) studio album 'Zentuary' with his Indonesian band (Saat Syah, Shadu...
09.10.2016 8:46 PM - https://www.facebook.com/Favorednationsentertainment New studio album (2CD & 3LP 180 grams vinyl made from HD 24 bit/96khz master) of the iconic Balinese guitarist...
Karya Para Maestro di Gitar-Gitar Budjana
30.08.2012 9:30 PM
budjana.jpg

DALAM agama Hindu Saraswati adalah dewi yang dipuja. Nama Saraswati tercantum dalamRegweda dan juga dalam sastra Purana (kumpulan ajaran dan mitologi Hindu). Ia adalah dewi ilmu pengetahuan dan seni. Saraswati juga dipuja sebagai dewi kebijaksanaan. Dalam aliran Wedanta, Saraswati di gambarkan sebagai kekuatan feminin dan aspek pengetahuan —sakti— dari Brahman. Para penganut ajaran Wedanta meyakini, bahwa penguasaan atas ilmu pengetahuan dan seni adalah salah satu jalan untuk mencapai moksa, pembebasan dari kelahiran kembali. Bagitulah Wikipedia menggambarkan satu dari tiga dewi utama dalam agama Hindu. Dua yang lainnya adalah Dewi Sri (Laksmi) dan Dewi Uma (Durga).

 

Secara artistik dan filosofis, Dewi Saraswati digambarkan sebagai sosok wanita cantik berkulit halus dan bersih yang merupakan perlambang bahwa ilmu pengetahuan suci akan memberikan keindahan dalam diri. Ia berpakaian dengan dominasi warna putih dan terkesan sopan yang menunjukan bahwa pengetahuan suci akan membawa para pelajar pada kesahajaan. Postur Saraswati biasa digambarkan duduk atau berdiri di atas bunga teratai, juga terdapat angsa putih di dekatnya yang merupakan kendaraan sucinya, simbol dari kebenaran sejati. Dalam banyak versi, sering juga terlukis seekor burung merak. Dewi Saraswati memiliki empat lengan yang melambangkan empat aspek kepribadian manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan: pikiran, intelektual, waspada (mawas diri), dan ego.

 

Sosok Dewi Saraswati inilah yang dengan indah terukir pada badan gitar Parker Nitefly Mahogany milik Dewa Budjana. Gitar yang dibeli dari Melodia Musik itu memang dipersiapkan untuk diukir. Dan sang pengukir hebat itu adalah Wayan Tuges, teman Budjana. Tentu saja sosok Saraswati di gitar itu dibuat dengan imajinasi pelukisnya. Sang Dewi, misalnya, tidak digambarkan duduk atau berdiri sebagaimana biasanya, tetapi melayang. Maka jadilah gitar dengan dominasi warna kayu itu menjadi gitar berukir yang tidak saja indah, tetapi juga sarat makna. Dan Budjana memberi nama gitar Saraswati. Jika Aji sang kru bertanya, “Mas gitar mana yang mau dipakai?” Dan Budjana menjawab, “Gitar Saraswati.” Aji langsung mengerti maksudnya.

 

Saraswati adalah satu di antara 31 gitar Budjana yang diukir atau dilukis oleh para maestro seni Indonesia. Nama-nama pelukis/pematung kondang seperti, Jeihan, Nyoman Nuarta, Masriadi, Putu Sutawijaya, Djoko Pekik, Bob Sick, Nyoman Gunarsa, Srihadi, Agus Suwage, Teguh Ostenrik, Pande Taman, Heri Dono, Kartika Affandi, hingga Arie Smit ambil bagian dalam projek ini. Ini memang projek yang sangat prestisius dan boleh juga kalau dibilang ambisius. Bagaimanapun sangatlah sulit menghimpun dan mengajak begitu banyak seniman kondang untuk melukis gitar, dan… gratis pula. Budjana tidak mengeluarkan uang serupiah pun untuk para maestro ini.

 

Dengan gitar-gitarnya.

 

 

Untuk kerja besar ini, Budjana sendiri yang keliling mengunjungi mereka satu-persatu menjelaskan projeknya dan meminta kesediaan mereka secara pribadi. Gayung pun bersambut, banyak seniman yang menyatakan kesediaannya dengan antusias. Hingga terhimpunlah sebanyak 31 pelukis yang masing-masing melukis, mengukir, atau melakukan apa pun (termasuk jika harus memotong dan menyambungnya kembali) pada gitar yang dipercayakan Budjana kepadanya.

 

Buku dan Museum

 

Gitar yang dilukis atau diukir ini bukanlah ujung dari projek. Budjana ingin karya kolaborasi ini bisa dinikmati sebanyak mungkin orang, untuk itu akan diterbitkan sebuah buku yang berisi semua karya ini. Bukan cuma foto gitar, buku ini juga bercerita tentang proses pembuatan karya seni, profil, serta gagasan yang mendasari terciptanya karya tersebut.

 

Penulis buku adalah Bre Redana, mantan redaktur seni dan budaya Harian Kompas yang sampai sekarang masih aktif menulis. Bre terpilih di antara banyak penulis yang lain, seperti Putu Fajar Arcana, Frans Sartono, dan Gunawan Mohammad. Semuanya penulis hebat, tapi kami (budjana membentuk tim untuk mengerjakan projek ini yang terdiri dari saya sendiri, Dhani, Maureen, dan Dedi Dude) memiliki pertimbangan/kriteria sendiri. Pertama penulis harus mengerti lukisan dan musik sekaligus. Untuk musik, bukan masalah besar karena penulis bisa menanyakan langsung pada Budjana. Nah, untuk penulis yang mengerti lukisan, ini yang langka. Dan kami menumukannya pada sosok Bre, yang bertahun-tahun menjadi redaktur budaya yang di dalamnya ada unsur musik dan lukisan. Di samping itu, istri Bre adalah pemilik galeri yang memiliki akses ke pelukis-pelukis terkenal. Jadi klop sudah.

 

Fotografer yang terlibat dalam pembuatan buku ini juga tidak sembarangan. Mereka adalah Jay Subiyakto, Darwis Triyadi, Ray Bakhtiar, Rio Helmi, Anton Ismael, Fidaus Fadlil,dan Dedi Dude yang sekaligus menjadi disainer bukunya. Seluruh proses ini sedang berjalan, sejak pertama kali digagas sekitar pertengahan tahun lalu. Target awal, buku akan selesai bulan Mei lalu, tapi gagal dipenuhi. Kami memundurkan jadwal peluncuran jadi September, dan sedang berusaha keras untuk memenuhinya.

 

Mengakhiri tulisan pertama ini, kami ingin menyampaikan bahwa buku bukanlah target akhir dari projek ini, karena kami akan membuat museum untuk menyimpan karya yang hebat ini. Tanahnya sudah disiapkan di Ubud. Bahkan gambar arsitektunya juga sudah dibuat oleh arsitek kelas dunia asal Bali, Popo Danes. Cerita ini tetang museum ini akan kami tuliskan nanti. Jadi begitulah di tengah segala kesibukannya, Budjana menyiapkan sebuah projek besar, prestisius, dan mungkin satu-satunya di dunia.[son andries/POSe –bersambung]

Putu Sutawijaya.

back to top