news

04.10.2017 3:44 PM - MEIER BUDJANA GROUPNICOLAS MEIER guitar • DEWA BUDJANA guitarJIMMY HASLIP bass • ASAF SIRKIS drums • SAAT SYAH flute TOUR DATESOctober...
30.07.2017 12:03 AM - Motion Blue Jakarta...
05.07.2017 10:47 AM - August 23, 2017, 8:00 pm to 9:15 pm, 10:15 pm to 11:30 pmPaul McCandless and Charged ParticlesMotion Blue Jakartawith Special...
26.02.2017 1:32 PM - Feat:  Shadu Rasjidi, Demas Narawangsa, Marthin Siahaan, Irsa Destiwi, Rega Dauna, Saatsyah...
22.11.2016 10:43 AM - db will perform all tunes from his newest (double) studio album 'Zentuary' with his Indonesian band (Saat Syah, Shadu...
09.10.2016 8:46 PM - https://www.facebook.com/Favorednationsentertainment New studio album (2CD & 3LP 180 grams vinyl made from HD 24 bit/96khz master) of the iconic Balinese guitarist...
Dua Gitar Fender Buat Kartika Affandi
30.08.2012 9:27 PM
600309_3595042347477_1682664587_n.jpg

SABTU tanggal 2 Juni pukul 16:30 kami sampai di “Omahe Kartika” yang terletak di Pakem, Sleman, Jogja. Tulisan “Omahe Kartika” itu terpasang dipapan depan rumah, memberitahu pengunjung bahwa memang benar inilah rumah Kartika yang mereka cari. Kami dipersilahkan duduk di kursi bambu di teras depan rumah, menunggu Kartika bangun dari tidur siangnya. Tidur siang ini sudah menjadi kebiasaan putri maestro pelukis Affandi yang kini telah berusia 77 tahun. “Mami biasanya bangun pukul 5 sore,” kata seorang wanita muda menyambut kedatangan kami sambil menawari teh atau kopi.

Di halaman depan yang rimbun tergantung berbagai bentuk seperti ayam terbuat dari ban mobil bekas. Sejumlah mainan jadul terbuat dari anyaman pandan memenuhi dinding teras tempat kami menunggu. Gedhok dan meja antik juga tampak di situ.

Sejak siang Budjana terus berkomunikasi dengan Budi, salah satu anak Kartika, memberitahukan bahwa kami akan sowan kesana. Sebenarnya kami (saya, Budjana, Dhani, dan Arum Wahyuni mahasiswa UGM yang jadi LO acara konser Trisum yang akan diselenggarakan malam harinya) berencana untuk datang siang, tetapi Budi menyarankan agar kami datang sore karena maminya punya kebiasaan tidur siang. Budi sendiri tidak bisa menemani kami karena saat itu ia punya kesibukan di Jogja.

Baru sepuluh menit menunggu kami diberitahu kalau mami sudah bangun dan kami dipersilahkan masuk ke dalam rumah. Kami melewati kamar tamu luas yang penuh dengan ornamen seni warna-warni, lalu masuk melalui pintu kayu rendah menuju kamar Kartika yang juga sangat luas. Kartika duduk di bale-bale yang cukup besar, yang menurut dugaan saya di sanalah ia tidur sekaligus menerima tamu-tamunya.

“Tadi lama ya nunggunya?” kata Kartika yang sore itu menerima kami dengan hangat. Tampak benar kalau ia baru saja bangun tidur. Rambut yang hampir seluruhnya putih tampak awut-awutan. “Mana jepit rambut saya ya?

”Kartika lahir pada 27 November 1934 di Jakarta, sebagai anak tunggal pasangan Affandi dan Maryati, keduanya pelukis. Ia bertunangan dengan Saptohoedojo –juga maestro senirupa- kemudian menikah dua tahun kemudian, tepatnya pada 1952. Pernikahannya berujung dengan perceraian pada tahun 1972 sesudah mendapat delapan anak. Kartika menikah untuk kedua kalinya pada 1985 dengan Gerhard Koberl, seorang warga Austria, namun bercerai tahun 2000.

Kartika belajar melukis pada ayahnya, namun mulai melukis secara sungguh-sungguh baru dimulainya dengan Saptohoedojo. Tahun 1957 untuk pertama kalinya pameran bersama –dengan pelukis wanita di Yogyakarta, ditahun 1958 pameran bersama keliling Negara-negara sosialis. Pada tahun 1964, ia mengikuti pameran bersama di Museum Modern of Art, Rio De Janeiro, Brazil. Di tahun 1967, membantu Affandi membuat lukisan dinding (Fresco) di East West Center University of Hawaii, USA. Di tahun 1977, ia menjadi kurator pada museum Affandi hingga sekarang.

Pada media, Kartika mengaku bahwa tidak mudah menjadi anak Affandi. Gaya empu seni lukis Indonesia yang diakrabinya sejak usia dini itu kelak membayangi kanvas-kanvasnya. "Saya tak mau menjadi papi ke-2," tutur Kartika pada suatu saat.

Dorongan Affandi yang mengatakan bahwa kekuatannya justru terletak pada dirinya yang perempuan telah membukakan jalan. Garis-garisnya kemudian lebih lembut dan terbukti ia lebih teliti. Kartika juga sering memilih objek yang khas seperti hewan menyusui, bunga matahari, dan anjing. Yang terkahir ini karena Kartika memiliki shio anjing. "Ketika papi mengatakan: kamu telah menemukan diri sendiri, saya seperti terlepas dari beban," tuturnya.

 

Dengan segala pencapaiannya kini Kartika telah menjadi salah satu maestro pelukis wanita Indonesia.

 

Minta Dua Gitar

Kartika Affandi adalah pelukis (mungkin) terakhir yang dikontak Budjana dan diminta untuk melukis gitarnya. Artinya Kartika adalah pelukis ke-31. Sebenarnya setelah 30 pelukis dan 30 gitar, Budjana dan kami anggota tim merasa cukup. “Semua aliran telah ada yang mewakili,” kata Budjana. Tapi mendadak ada seorang teman mengajukan nama Kartika Affandi. Bukan cuma usul, ia juga memiliki akses ke Kartika. Maka kami pun berubah pikiran dan memasukan nama Kartika dalam daftar artis yang akan melukis gitar Budjana.

Menurut Budjana yang menemui Kartika saat pameran di Ancol belum lama ini, pada awalnya Kartika menolak karena mengaku sangat sibuk. Tapi ia berjanji akan mengerjakan permintaan Budjana untuk melukis di gitarnya tahun depan. Ini kami anggap sebagai penolakan halus. Tapi setelah Budjana menceritakan detail projeknya, bahwa Jiehan, Joko Pekik, Sonaryo, dan pelukis yang lain ikut berpartisipasi; dan bahwa gitar-gitar itu nantinya akan dibukukan; sebelum “diistirahatkan” dalam sebuah museum yang akan dibangun di Ubud, Kartika berubah pikiran. “Saya punya ide untuk lukisan di gitar itu,” kata Budjana menirukan Kartika, yang mengaku sampai saat ini tidak tahu apa ide Kartika itu. Yang jelas ia minta disediakan dua buah gitar. Budjana langsung menyenggupi, dan akan mengantarkan sendiri gitar itu ke rumah Kartika di Pakem.

Maka sore itu, sebelum Budjana tampil bersama Trisum di konser Economis Jazz 2012 di Grand Pacific Hall Jogja malam harinya, kami menyempatkan diri mampir ke rumah Kartika dengan membawa dua gitar Fender.

Kepada kami saat itu, Kartika juga tidak membeberkan idenya terhadap gitar-gitar itu. Kami juga tidak memberi batas waktu kapan harus selesai. Terserah Kartika sepenuhnya, tapi secara implisit kami menyisipkan pesan bahwa menurut rencana –jika semua berjalan lancar- buku tentang gitar-gitar yang dilukis itu akan diterbitkan pada bulan Oktober tahun ini.

Sambil duduk di atas tikar di samping Kartika, Budjana lalu mengeluarkan gitar dari cashing-nya. Menerangkan bagian-bagian dari gitar itu, dan mengakhiri penjelasannya dengan pesan bahwa Kartika boleh melukis apa saja dan di bagian mana saja dari bagian gitar-gitar itu. Pendeknya gitar itu sepenuhnya berada di bawah otoritas Kartika, termasuk jika ia hendak membelah gitar itu menjadi dua.

Jadi begitulah kami diterima dengan hangat oleh Kartika Affandi di kamar pribadinya. Ia juga bercerita tentang rencannya membuat museum yang akan menampung karya pelukis wanita. “Tanahnya sudah saya persiapkan di samping rumah ini, luasnya 10 ribu meter persegi. Di sana juga kelak mami (Kartika) dikuburkan,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia telah menyiapkan 700 lukisannya untuk ditempatkan di museum.Kenapa cuma menampung karya pelukis wanita? Kartika menjawab, bahwa saat ini banyak sekali museum dan galeri, tapi semuanya milik laki-laki dan menampung sebgian besar karya laki-laki, tidak ada yang khusus menampung lukisan pelukis wanita. Ini memang obsesi lama Kartika.

Karena kami terus bertanya tentang rumah dan bakal museum itu, kami dipersilahkan melihat-lihat halaman belakang rumah. “Kalau mau lihat-lihat di belakang sekarang saja, nanti keburu gelap,” katanya. Kartika sendiri tidak ikut serta karena sudah tidak kuat berdiri lama. Selama ini jika bepergian Kartika selalu membawa kursi rodanya.

“Saya sengaja membiarkan tanaman dibelakang tidak ditata. Biar tampak alami seperti hutan.” Katanya. “Silahkan melihat-lihat di belakang, tapi permisi dulu ya? Dulu ada orang yang mencoba meditasi dibelakang, eh nggak kuat juga.”  Suasana mistis memang sangat terasa begitu kita masuk ke rumah Kartika. Di halamn belakang yang luas ada gasibu dan lumbung padi yang berasal dari Bawean dan kolam ikan yang sedang dikeringkan.Sebelum kami pamit, Kartika mengatakan akan datang pada konser Trisum malam itu. Ia minta di sediakan 4 tiket. Kami tantu saja sangat senang dengan permintaan itu. Arum mewakili panitia penyelenggara langsung menyatakan akan menyiapkan tiket tersebut.

Pukul 6 sore kami pergi meninggalkan “Omahe Kartika” dengan perasaan yang sangat gembira. Bangga juga rasanya bisa berkunjung dan berbincang-bincang dengan salah satu maestro wanita, puteri Affandi itu.

Pendidikan formal Kartika hanya sampai kelas 1 SMP Taman Dewasa Taman Siswa Jakarta pada tahun 1949. Ia kemudian belajar di Universitas Tagore di Shantiniketan di India sebagai mahasiswa luar biasa berkat beasiswa dari Pemerintah India. Ia juga pernah belajar seni patung di Polytechnic School of Art di London. Tahun 1980 ia belajar teknik pengawetan dan restorasi benda seni di Wina, Austria, yang dilanjutkannya di Roma.Yang terbaru adalah gelar doktor honoris causa dari Northern California Global University.

Katanya sang papi memberinya nama "Kartika" karena itu adalah nama bintang yang tetap bersinar walaupun langit tengah mendung. Itu dianggapnya sebagai harapan agar ia juga tetap bersinar menghadapi hidup yang sukar. Semangat ayahnya ini ia rasakan terus mendorongnya bahkan sampai di usia senja kini.  Begitulah Kartika. [son andries/POSe- bersambung]

 

back to top