news

04.10.2017 3:44 PM - MEIER BUDJANA GROUPNICOLAS MEIER guitar • DEWA BUDJANA guitarJIMMY HASLIP bass • ASAF SIRKIS drums • SAAT SYAH flute TOUR DATESOctober...
30.07.2017 12:03 AM - Motion Blue Jakarta...
05.07.2017 10:47 AM - August 23, 2017, 8:00 pm to 9:15 pm, 10:15 pm to 11:30 pmPaul McCandless and Charged ParticlesMotion Blue Jakartawith Special...
26.02.2017 1:32 PM - Feat:  Shadu Rasjidi, Demas Narawangsa, Marthin Siahaan, Irsa Destiwi, Rega Dauna, Saatsyah...
22.11.2016 10:43 AM - db will perform all tunes from his newest (double) studio album 'Zentuary' with his Indonesian band (Saat Syah, Shadu...
09.10.2016 8:46 PM - https://www.facebook.com/Favorednationsentertainment New studio album (2CD & 3LP 180 grams vinyl made from HD 24 bit/96khz master) of the iconic Balinese guitarist...
Heri Dono dan Gitar yang Melotot
30.08.2012 9:25 PM
556640_3628884433508_1700403375_n.jpg

JIKA disusun secara kronologis, tulisan ini mestinya muncul lebih dulu dari dua tulisan sebelumnya. Karena kami berkunjung ke studio Heri Dono di Jogja tanggal 2 April, jauh sebelum datang ke “Omahe Kartika” pada 2 Juni (tulisan kedua), dan –tentu saja- dari tulisan pertama tentang Gitar Saraswati yang baru dimunculkan pada 1 Juni (walaupun sebenarnya bahan untuk tulisan itu sudah lama saya siapkan). Tapi tidak masalah kan? Habis gimana lagi saat itu lagi malas menulis, hehehe.., lagi pula ini tulisan lepas yang bisa dibaca dari mana saja, tidak mesti berurutan 1, 2, 3.

Cerita bermula dari kabar telah selesainya lukisan Heri Dono (nama lengkapnya Heri Wardono) pada gitar yang diserahkan Budjana. Daripada cuma menggambil gitar dan mengucapkan terima kasih atas kesediaanya berpartisipasi dalam projek ini, mengapa kesempatan bertemu Heri Dono ini tidak sekalian saja digunakan untuk memotret gitar berikut penlukisnya? Sebab, menilik kesibukannya yang luar bisa (sebagian besar waktunya dihabiskan dengan bepergian ke luar negeri) kesempatan untuk bertemu Hari Dono bisa dikategorikan sebagai momen yang sangat langka.

 

Maka berangkatlah rombongan kami ke Jogja. Sebuah rombongan yang cukup besar. Selain Budjana, ikut dalam rombongan ini Ray Bakhtiar, fotografer profesional yang juga kakak Armand Maulana yang akan mengambil gambar; saya dan Dhani. Ada peserta lain yang ikutan, yaitu Pak Budi Kurniadi yang sedang belajar menjadi pemetret profesional; juga Albert dan Ardi yang sebenarnya punya urusan lain di Jogja yang tidak ada kaitannya dengan projek ini, tapi karena pekerjaan mereka masih bisa menunggu hingga esok harinya, mereka pun “diikutkan” dalam rombongan ke studio Heri Dono.

 

Kami mendarat di Adi Sucipto sekitar pukul 9 pagi dan langsung mencari sarapan. Tujuannya adalah Warung Bu Ageng milik Butet Kertarajasa di daerah Tirtodipuran. Tapi ternyata warung ini tutup pada hari Senin. Kami pun bergeser ke warung gudeg Yu Djum yang di dekat alun-alun. Usai sarapan kami langsung menuju daerah Kalahan, Gamping, ke studio Hari Dono. Setelah dipandu melalu telefon, kami sampai di sebuah bangunan yang dari luar mirip sekolah atau kantor kecamatan. Tapi kami yakin ini bukan sekolah atau kantor muspika, tetapi studio seni karena di gerbang dalam ada patung artistik semacam mahluk, entah apa, dengan warna merah-kuning menyala.

 

Heri Dono menyambut kami dengan hangat di ruang tamu studio. Ada beberapa kursi dan meja kecil yang di tasnya ada sepiring tempe goreng. Di ruang tamu ini kami disambut berbagai karya instalasi dan lukisan. Bale-bale kayu besar dari kayu jati yang tampak berat diletakkan di sudut ruangan, disebelahnya ada patung anjing dari fiberglass berwarna putih polos diletakkan di atas pilar kayu setinggi 1 meter. Anjing seukuran aslinya itu sedang jongkok dan -maaf- buang hajat. Tepat di bawah pantatnya ada seonggok kotoran berwarna emas. Dilangit-langit tergantung beberapa figure seperti malaikat atau peri dengan sayap capung yang transparan.

 

Kami diajak berkeliling studio, dan langsung dibuat tebengong-bengong –juga sedikit geli- melihat puluhan karya instalasi Heri Dono yang katanya bergaya pos modernisme itu. Di satu ruangan ada berisan T-rex setinggi 2 meter berkepala tokoh dunia seperti Bush, Mao Cze Tung, stalin, Castro, dan Osama bin Laden membawa senapan serbu AK-Kalashnikov. Di dada para tokoh ini ada sebuah lampu dan semacam alat elektronik yang jika dihubungkan dengan arus listrik akan menyala dan mengeluar bunyi mendengung seperti radio rusak. Heri Dono menamai karya instalasinya ini Donosaurus.

Nanti kami tahu kalau dinosaurus banyak dipakai untuk karya-karya Heri Dono yang lain, seperti instalasi mobil kuno (mobil beneran) berwana putih yang sopirnya laki-laki bekepala T-rex, sedangkan penumpang dibelakangnya wanita cantik.

 

Ada lagi sejumlah motor kuno zaman perang dunia II yang dikendarai orang-orangan seukuran aslinya berwarna coklat tua, dengan wajah dicat warna putih sementara bibirnya berwarna merah menyala, mirip riasan wajah panakawan. Di salah satu sudut ruang di lantai atas tampak seperangkat alat musik tradisional bonang dan saron yang dihubungkan dengan rangkaian alat elektronik yang jika disambungkan ke sumber listrik akan mengeluarkan bunyi.

 

Di tengah-tengah tur studio ini Bre Redana datang bergabung. Bre yang akan menulis buku tentang gitar-gitar yang dilukis ini datang ke Jogja dengan pesawat berbeda dengan rombongan kami. Ia sudah kenal lama dengan Heri Dono. Setelah diinterupsi sejenak, tur berlanjut dengan Bre ikut bergabung bersama kami.

 

Penangkapan Soeharto.

 

 

Lukisan Heri Dono yang membuat saya terkesan adalah plesetan dari lukisan maestro Raden Saleh yang judulnya “Penangkapan Diponegoro”. Di kanvas berukuran sekitar 2 X 1 meter itu Heri Dono membuat lukisan berjudul “Penangkapan Soeharto”. Digambarkan Soeharto ditangkap dan disidang di depan mahkamah rakyat, di halaman sebuah gedung bergaya kolonial yang megah, blokingnya mirip benar dengan lukisan Raden Saleh. Di situ hadir banyak orang, di antaranya ada Gus Dur di kursi rodanya, Amien Rais, Habibie, dan Semar. Semua figur itu diberi nomor untuk menerangkan siapa tokoh dimaksud. Sementara Pangeran Diponegoro sendiri melarikan diri keatas genting (diberi nomor 19).

 

Waktu kami datang, Heri Dono tengah mempersiapkan sebuah patung Sultan Hamengku Buwono IX sedang terbang. Patung fiberglass ini rencanannya akan dipamerkan dalam Festival Seni Rupa Negari Ngayogyakarta Hadiningrat. Festival yang digelar di Jogja National Museum pada 13-27 April itu merupakan bagian dari acara peringatan satu abad bertahtanya HB IX dan 2,5 abad berdirinya Ngayogyakarta Hadiningrat.

 

Sepasang Mata Menatap

Heri Dono lahir di Jakarta 12 Juni 1960 dan memperoleh pendidikan seninya dari ISI (dulu ASRI) Yogyakarta (1980-1987). Dari tahun 1987-1988 ia belajar wayang kulit pada Sukasman, salah satu empu wayang kulit di Jogja. Kelak wayang kulit ini banyak mempengaruhi karya-karyanya. Medium yang digunakan Heri Dono beraneka ragam, tapi pilihannya sering jatuh pada materi sehari-hari dan berteknologi sederhana.

 

Bagi Heri Dono, sebagaimana dikutip oleh Jim Supangkat, “.. seniman tak memperoleh inspirasi dari kekuatan individu, melainkan dari realitas masyarakat sekitar di mana dia tinggal. Medium baginya bukanlah wilayah personal seniman. Medium dalam ekspresi seni Heri Dono dibangun secara kolektif dan tak berhubungan dengan orisinalitas atau individualitas. Dalam pandangan Heri Dono, seniman seharusnya membentuk mediumnya dengan menerima hal-hal di sekelilingnya. Medium itu bisa meliputi apa saja: sebuah objek, tanda, simbol, atau bahkan ide-ide."

 

Berbagai pameran tunggal maupun kolektif pernah dijalani dan diikutinya, baik di dalam negeri maupun mancanegara. Jumlah tidak terhitung, lebih dari seratus, suatu angka yang sangat fantastis. Ia juga sering diminta menjadi pembicara dalam acara workshop seni.

 

Sebagai gambaran, tahun 2010, Heri Dono menggelar pameran tunggal Comedy of Errordi Jan Manton Gallery, Brisbane, Australia, setelah sebelumnya mengikuti Arte Fiera, Bologna Art Fair, Italy. Sementara di tahun yang sama ia juga berpameran di lima tempat lain di Indonesia, kebanyakan di Jakarta.

 

 

 

Budjana sangat beruntung bisa mengoleksi karya Heri Dono yang khusus dibuat untuknya. Heri Dono adalah seniman Indonesia angkatan tahun 80-an yang sangat dikenal di kancah seni kontemporer dunia. Namanya tercatat sebagai salah satu seniman avant garde dunia versi majalah senirupa Australis, Artlink. Dalam buku Fresh Cream (2001), ia masuk dalam katagori 100 seniman tersibuk di dunia.

 

Menurut Rustika Herlambang dalam tulisannya pada Desember 2011, Heri Dono diundang oleh label Louis Vuitton berpertisipasi dalam pameran Trans-Figuration-Indonesia Mythologies di Paris. Saat pertemuan berlangsung, ia baru saja pulang dari Berlin dan seorang pemilik galeri dari Belanda tengah menemuinya. Bulan depan ia pemeran tunggal di Amsterdam. Banyak pengamat seni mengatakan bahwa kekuatan Heri Dono terletak pada keberaniannya membebaskan diri dari apa yang disebut sebagai komersialisasi karya seni.

 

Hingga saat ini Heri Dono belum menikah dan tampak jengah jika ditanya tentang wanita. Tapi ada jawaban yang menurut saya unik yang pernah dikemukakannya, begini: “Menikah itu harus bertanggung jawab, kita harus menyediakan 80% waktu kita di rumah dan lain-lain yang tidak bisa saya lakukan.”

 

“Tapi begini,” lanjutnya, “Seniman itu selalu menikahi Dewi Saraswati, dewi ilmu pengetahuan dan seni. Jadi katakan saja saya telah menikah dengan Dewi Saraswati.” Kata-kata itu mengingatkan saya dengan cerita tentang Gitar Saraswati milik Budjana yang belum lama ini saya tulis (tulisan pertama).

 

Di tangan Heri Dono, gitar Godin Glanistar Budjana, berubah menjadi bentuk yang lain. Bodi gitar bersenar 11 itu diberi warnah merah yang dipadu dengan coklat kusam. Ada sepasang mata melotot pada bagian yang berwarna coklat itu. Mata itu tempelan berbahan fiberglass. Sementara di bagian bawahnya ada lidah, juga dari fiberglass. Di leher gitar, Heri Dono menambahkan ukiran mahluk aneh berwajah putih, berhidung panjang, sedang meringis.

 

Saya membayangkan, saat memainkan gitar itu, Budjana akan ditatap tanpa berkedip oleh sepasang mata entah milik siapa. [son andries/POSe-bersambung]

back to top