news

04.10.2017 3:44 PM - MEIER BUDJANA GROUPNICOLAS MEIER guitar • DEWA BUDJANA guitarJIMMY HASLIP bass • ASAF SIRKIS drums • SAAT SYAH flute TOUR DATESOctober...
30.07.2017 12:03 AM - Motion Blue Jakarta...
05.07.2017 10:47 AM - August 23, 2017, 8:00 pm to 9:15 pm, 10:15 pm to 11:30 pmPaul McCandless and Charged ParticlesMotion Blue Jakartawith Special...
26.02.2017 1:32 PM - Feat:  Shadu Rasjidi, Demas Narawangsa, Marthin Siahaan, Irsa Destiwi, Rega Dauna, Saatsyah...
22.11.2016 10:43 AM - db will perform all tunes from his newest (double) studio album 'Zentuary' with his Indonesian band (Saat Syah, Shadu...
09.10.2016 8:46 PM - https://www.facebook.com/Favorednationsentertainment New studio album (2CD & 3LP 180 grams vinyl made from HD 24 bit/96khz master) of the iconic Balinese guitarist...
Gitar di Kamar Budjana (Kompas Minggu)
12.01.2010 3:17 PM
FOTO-FOTO: KOMPAS/ARBAIN RAMBEY Di studio penyimpanan gitar. Gitar di Kamar Budjana Minggu, 10 Januari 2010 | 02:33 WIB Frans Sartono & Putu Fajar Arcana Gitar adalah penghuni tetap rumah Dewa Budjana. Ada puluhan gitar yang menjadi "anggota" keluarga dari gitaris band GIGI dan JavaJazz itu. Bersama sang istri, Putu Borrawati, dan kedua anaknya, Budjana menemukan kenyamanan hidup di rumah yang dia huni sekitar setahun terakhir ini. Tidak sulit menemukan rumah Dewa Budjana (46) di Pejaten Barat, Jakarta Selatan. Pasalnya, di kompleks yang hanya ditempati sepuluh unit rumah itu rumah Budjana merupakan satu-satunya yang menggunakan angkul-angkul atau semacam pintu gerbang khas Bali. Pintu kayu itu didatangkan khusus dari Singaraja, Bali. Memasuki angkul-angkul itu akan tampak padmasana, tempat doa bagi pemeluk Hindu Bali. Sebagai anak yang dibesarkan dalam tradisi Hindu-Bali, di dalam ruangan rumah keluarga kecil ini juga terdapat pelangkiran, altar pemujaan leluhur. Bahkan, pada awal menempati rumah, Budjana bersama keluarga melakukan upacara melaspas, upacara suci pembersihan rumah secara spiritual sebagaimana dilakukan di Bali. Memasuki ruang tamu, kita disambut gitar di meja kayu. Gitar merek Aria Pro itu ditanam di meja kayu yang diberi rongga khusus untuk merebahkan gitar. Meja itu dilapisi kaca tebal sehingga gitar berada dalam posisi aman tanpa tersentuh tangan. Itulah gitar bersejarah, gitar pertama yang dibeli Budjana. Ia membelinya di toko Joen Shen, Surabaya, Jawa Timur, tahun 1980. Asal tahu saja, gitaris kelahiran Waikabubak, Sumba, NTT, itu besar di Surabaya. "Harganya Rp 450.000. Cukup mahal untuk ukuran saat itu. Aku mencicil dengan uang muka Rp 50.000. Mencicilnya sampai lima tahun," tutur Budjana. Itu baru gitar pertama yang terlihat. Naik ke lantai dua kita akan menemui hampir 50 gitar berbagai merek di satu kamar khusus yang juga berfungsi sebagai studio. Di sana ada gitar Gibson SG seperti yang digunakan gitaris Black Sabbath, Tony Iommi. Ada pula Parker, gitar yang paling banyak dimainkan Budjana. Di ruangan itu Budjana berkreasi. Sebagian garapan musik GIGI dan JavaJazz lahir di ruang yang dilengkapi komputer untuk program komposisi itu. Sebagian aktivitas keluarga juga berlangsung di lantai dua. Di sini ada kamar utama serta kamar tidur anak. Anak pertamanya, I Dewa Gede Mahavishnu Devananda (5,5), suka bermain komputer di ruang keluarga itu. Borra, sang istri, juga suka membaca di situ. Budjana meletakkan rak buku menyatu dengan ruang keluarga. Di rak itu bisa ditemukan deretan puluhan buku, termasuk empat seri novel karya Stephenie Meyer, Twilight, New Moon, Eclipse, dan Breaking Dawn. Ada pula Jejak Langkah-nya Pramudya Ananta Toer. Di rak lain ada koleksi Budjana, Bhagavad Gita, Bharata Yuddha & Pandava Seda, serta A History of God karya Karen Armstrong. Di lantai atas pula Budjana dan istri sering kali berlatih yoga. Terang dan nyaman Budjana menyukai rumah yang terbuka di mana sinar matahari leluasa masuk dan menjadi penerang kala siang. Praktis pada siang hari di rumah itu tidak ada lampu menyala. Selain sinar, udara juga diupayakan bebas beredar sehingga tak diperlukan lagi alat penyejuk ruang, kecuali di studio. Untuk itu jendela rumah dibuat lebar. Rumah bagi Budjana adalah tempat di mana hidup terasa nyaman. Ukuran kenyamanan itu bagi dia bukan semata masalah fisik rumah. Kenyamanan itu diciptakan penghuni. Keluarga menjadi kunci utama kenyamanan. Gitar dan lukisan adalah bagian tak terpisahkan dari kenyamanan tersebut. Ada sejumlah lukisan karya para pelukis terkenal yang menghiasi ruang di rumah dua lantai itu. Keluarga Budjana pernah sekitar empat tahun tinggal di apartemen. Tetapi, setelah kelahiran anak kedua, I Dewa Gede Shakti Dawainanda (1,5), Budjana kerepotan menaruh gitar-gitarnya. Atas info sahabatnya, Armand Maulana, Budjana kemudian membeli rumah di Pejaten itu. "Begitu liat, aku langsung bayar uang muka," tutur Budjana. Sebelumnya ia pernah tinggal di kawasan Bintaro, di selatan Jakarta. Keluarga Bali ini pindah ke apartemen dan kemudian ke Pejaten untuk alasan kedekatan dengan studio GIGI di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Ingat, Jakarta semakin macet, Bung! Kenyamanan rupanya juga berkait dengan relasi antarmanusia sebagai sesama pengembara di jagat kehidupan. "Di sini (Pejaten) kami belajar bertetangga. Dulu di apartemen kami tidak pernah ketemu tetangga. Di sini juga ada sedikit halaman untuk bermain," kata Budjana. "Anak-anak juga dapat teman main dengan anak-anak seusia," kata Borra menambahkan. Bagi Budjana, rumah adalah tempat ia pulang dan mendapat energi kreatif lahir batin. "Kalau di rumah sendiri orang merasa tidak nyaman, maka hidup akan repot. Kalau sudah merasa cocok dan nyaman, rasanya keluar rumah itu mau ngapain lagi ya," kata Budjana. (c) 2008 - 2009 KOMPAS.com - All rights reserved

back to top