news

04.10.2017 3:44 PM - MEIER BUDJANA GROUPNICOLAS MEIER guitar • DEWA BUDJANA guitarJIMMY HASLIP bass • ASAF SIRKIS drums • SAAT SYAH flute TOUR DATESOctober...
30.07.2017 12:03 AM - Motion Blue Jakarta...
05.07.2017 10:47 AM - August 23, 2017, 8:00 pm to 9:15 pm, 10:15 pm to 11:30 pmPaul McCandless and Charged ParticlesMotion Blue Jakartawith Special...
26.02.2017 1:32 PM - Feat:  Shadu Rasjidi, Demas Narawangsa, Marthin Siahaan, Irsa Destiwi, Rega Dauna, Saatsyah...
22.11.2016 10:43 AM - db will perform all tunes from his newest (double) studio album 'Zentuary' with his Indonesian band (Saat Syah, Shadu...
09.10.2016 8:46 PM - https://www.facebook.com/Favorednationsentertainment New studio album (2CD & 3LP 180 grams vinyl made from HD 24 bit/96khz master) of the iconic Balinese guitarist...
Harian Kompas: Menikmati Energi Muda JavaJazz
13.12.2009 10:12 PM
KOMPAS.com Minggu, 13 Desember 2009 Kompas/Priyombodo Konser tunggal JavaJazz di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Kamis (10/12) malam. Setelah vakum selama 11 tahun kini grup musik yang beranggotakan Indra Lesmana, Dewa Budjana, Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, dan AS Mates tersebut kembali meluncurkan album berjudul Joy Joy Joy. Menikmati Energi Muda JavaJazz Minggu, 13 Desember 2009 | 04:09 WIB Frans Sartono Kelompok jazz JavaJazz hadir kembali setelah 11 tahun tidak naik panggung. Mereka menggelar konser di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (10/12) malam, dengan energi muda, makin keras dan makin terasa rock. JavaJazz membuka pergelaran dengan "Drama". Ini komposisi yang diawali hanya dengan satu nada, jreng, tetapi galak menggertak. Audiens di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, seperti terkesima dengan serangan mendadak mengentak, tetapi nikmat itu. Di hadapan mereka berdiri Indra Lesmana di belakang seperangkat keyboards. Kemudian agak ke belakang berdiri Dewa Budjana dengan gitar di tangan, plus banjo di stand atau tiang penyangga. Lalu Gilang Ramadhan pada drum, Ananda Sutrisno alias Mates (bas), dan Donny Suhendra (gitar) di ujung depan kanan panggung. Begitu "Drama" berakhir, penonton yang tampak takzim meledak dalam tepuk riuh. Dan tanpa basa-basi, JavaJazz langsung tancap dengan "Exit Permit" komposisi Indra dan Gilang yang dibuat tahun 2009. Karya ini menggunakan apa yang disebut sebagai double time, atau tempo yang berubah-ubah dalam satu komposisi. Dari tempo yang termasuk kompleks, yaitu 7/8, ke tempo simpel 4/4, mengingatkan pada tempo pada "Billie Jean"-nya Michael Jackson. Perubahan tempo itu terasa mengalir, tidak terkesan terpenggal-penggal. Efeknya, "Exit Permit" menjadi komposisi kaya warna, tidak monoton, dan nyaman di telinga. Keterampilan bermain dengan perubahan tempo serupa itu memerlukan jam terbang tinggi sebab, jika kurang berpengalaman, bisa-bisa atmosfer komposisi justru menjadi kocar-kacir. Keras Konser JavaJazz yang digelar POS Entertainment tersebut menjadi semacam unjuk virtuositas dari setiap awaknya. Mereka setidaknya selama 25 tahun menggeluti jazz secara intens. Kelompok ini dibentuk pada tahun 1991 dan pernah berganti formasi. Mereka terakhir tampil pada tahun 1998. Sepeninggal seorang awak mereka, yaitu Embong Rahardjo (saksofon/flute) pada tahun 2001, JavaJazz praktis tak aktif. Setiap awak menjelajah beragam ranah musik sampai kemudian pada tahun ini mereka kumpul kembali dengan membuat album Joy Joy Joy plus sejumlah konser yang akan digelar, termasuk di TIM itu. JavaJazz juga akan manggung di kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 15 Desember. Setelah lebih dari sepuluh tahun berlalu, awak JavaJazz justru menjadi semakin energetik, penuh tenaga, tetapi bijak dalam musik mereka. Simak komposisi "Border Line" dengan semacam riff gitar yang tebal dan keras mirip-mirip metal. Budjana berani menampilkan cita suara atau sound gitar yang kasar-kasar rock. Gitar Donny Suhendra juga lebih nge-rock dengan sedikit sentuhan blues. "Untuk ukuran jazz mungkin terdengar keras. Tapi, untuk musik rock masih belum keras," kata Budjana. "Bulan di Atas Asia" versi panggung juga terasa lebih keras dibandingkan dengan versi album yang dibuat tahun 1993 (lagu ini dimuat juga pada album Joy Joy Joy). Versi album komposisi tersebut melibatkan Embong pada piccolo yang terkesan lunak. Kini ada perubahan pada dinamika dengan hadirnya dua gitar. Namun, jiwa eklektik atau keberagaman serapan etnis pada komposisi itu masih sama kuatnya, yaitu sentuhan China, Jepang, plus Jawa. "Bulan di Atas Asia" merupakan komposisi jazz yang berakhir dengan rasa sangat Jawa. Peran dan posisi Embong, menurut Indra, memang tak tergantikan. Mereka tak memaksakan diri menghadirkan saksofon. JavaJazz kemudian menggunakan dua gitar dari Budjana dan Donny Suhendra. Dari dua gitar itulah, energi JavaJazz yang muda lebih terasa, dan agak galak. Hal itu merupakan pilihan artistik yang secara sadar diambil JavaJazz sebagai kelompok fusion. Tonggak-tonggak fusion, seperti Miles Davis, Chick Corea, John McLaughlin, atau grup Weather Report dengan Joe Zawinoel dan Wayne Shorter-nya memang bereksplorasi dengan estetika keras, terutama jika dibandingkan dengan jazz akustik. Namun, itu juga tergantung dari muatan emosi dari komposisi. Nyatanya pada lagu "Going Home" (yang tidak dibawakan dalam konser), JavaJazz menjadi begitu jinak, lembut, sendu, melankolis. "Going Home" memang karya untuk mengenang Embong Rahardjo (1950-2001). Interaksi Pada akhir suguhan ketiga, "Lembah", Indra angkat bicara. Ia menyapa penonton yang, katanya, agak tegang. "Mari kita lebih joyful (gembira) malam ini, sesuai dengan album kami Joy Joy Joy," kata Indra, seperti memecah suasana tegang. Dalam jazz, interaksi hadirin memang penting sebagai rangsang bagi musisi. Siklus aksi dan reaksi itu menjadikan pergelaran hidup. Penonton dengan begitu menjadi bagian musik itu. "Tetapi, kok vibrant-nya (getaran) enggak sampai ke kami ya," kata Gilang seusai konser. Penonton memang kurang ekspresif, tetapi sebenarnya mereka apresiatif. Buktinya mereka memberi tepukan keras setiap kali komposisi disudahi. Mereka bahkan serentak berdiri bertepuk tangan untuk sebuah pergelaran berbobot.

back to top