news

04.10.2017 3:44 PM - MEIER BUDJANA GROUPNICOLAS MEIER guitar • DEWA BUDJANA guitarJIMMY HASLIP bass • ASAF SIRKIS drums • SAAT SYAH flute TOUR DATESOctober...
30.07.2017 12:03 AM - Motion Blue Jakarta...
05.07.2017 10:47 AM - August 23, 2017, 8:00 pm to 9:15 pm, 10:15 pm to 11:30 pmPaul McCandless and Charged ParticlesMotion Blue Jakartawith Special...
26.02.2017 1:32 PM - Feat:  Shadu Rasjidi, Demas Narawangsa, Marthin Siahaan, Irsa Destiwi, Rega Dauna, Saatsyah...
22.11.2016 10:43 AM - db will perform all tunes from his newest (double) studio album 'Zentuary' with his Indonesian band (Saat Syah, Shadu...
09.10.2016 8:46 PM - https://www.facebook.com/Favorednationsentertainment New studio album (2CD & 3LP 180 grams vinyl made from HD 24 bit/96khz master) of the iconic Balinese guitarist...
JAVA JAZZ Kembali Satu
24.05.2009 07:09 AM
JAVA JAZZ KEMBALI SATU Reuni Java Jazz yang rencananya akan menampilkan Dewa Budjana menggantikan peran almarhum Embong Rahardjo. Oleh Adib Hidayat Ingatan saya kembali melayang di tahun 1998. Saat itu di Grand Hotel Preanger Bandung, saya bersama seorang teman mendapat sebuah undangan gratis dari radio KLCBS. Ini adalah radio yang begitu konsisten dalam mengalunkan irama jazz ke penikmat musik di kota kembang Bandung. Radio yang menemani aktifitas saat kejenuhan dialami kuping saya karena terlalu dijejal oleh bunyi-bunyi distorsi dari band progresif, metal, dan rock yang menjadi santapan tiap hari. Radio itu memberi saya undangan untuk menonton salah satu band jazz terkemuka Indonesia. Java Jazz namanya. Band yang saya kagumi. Mungkin nama ini sudah dilupakan banyak orang, karena Java Jazz kemudian menjadi sebuah nama festival yang mampu menyedot ribuan orang. Sebuah perkara misterius yang sampai sekarang kabarnya belum menemukan titik temu antara pemilik Java Jazz sebagai band dan Java Jazz sebagai festival. Namun kali ini Java Jazz yang akan saya bahas adalah band yang dibentuk oleh Indra Lesmana. Saat itu line up yang tampil di Java Jazz adalah Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Mates, Donny Suhendra, serta Embong Rahardjo. Album Sabda Prana saat itu mereka promosikan dalam konser tersebut. Album yang berisi penggabungan materi dari album Java Jazz sebelumnya, Bulan Di Asia. Band Java Jazz seperti ditelan era jaman. Apalagi saat Embong Rahardjo yang menjadi salah satu pilar utama dalam konstruksi band Java Jazz meninggal dunia di awal tahun 1999. Praktis band ini vakum. Saya merindukan band Java Jazz. Awal Mei 2009 saya kebetulan melihat foto-foto ulang tahun Tante Nien Lesmana, ibu dari Indra Lesmana yang diadakan dengan penuh keakraban oleh murid-murid Jack Lesmana di rumah mereka di Bintaro. Foto yang saya lihat itu hasil jepretan istri tercinta Indra Lesmana di facebook miliknya, Hanny Lesmana. Hanny juga menjadi tangan kanan, partner dan manager bagi virtuoso jazz negeri ini, Indra Lesmana. Sebelumnya di edisi Immortals yang dikeluarkan Rolling Stone Indonesia nama Jack Lesmana dan Indra Lesmana adalah dua sosok yang masuk dalam list The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa. Juga artikel Rolling Stone Classic tentang Jack Lesmana yang ditulis Denny MR makin mendekatkan hubungan batin saya dan Rolling Stone ke keluarga Lesmana. Apalagi Mira Lesmana juga baru menerima penghargaan dari kami Rolling Stone Editorís Choice Awards kategori The Box Office untuk filmnya terbaru Laskar Pelangi. Di foto tersebut terlihat suasana akrab yang menyelimuti ulang tahun ke-80 Tante Nien Lesmana. Murid-murid Jack Lesmana hadir. Terlihat Fariz RM, Gilang Ramadhan, Anto Hoed, Riza Arshad, Aksyan Sjuman dan jurnalis legendaris Kompas, Bre Redana. Ada banyak lagi nama yang hadir. Saat itu saya kaget melihat foto bertiga Gilang Ramadhan, Indra Lesmana, dan Fariz RM yang difoto bertiga oleh Hanny Lesmana. Ini adalah trio GIF yang sempat dikenal luas publik jazz. Trio yang kenyang di panggung tanpa pernah merekam album. Namun melihat foto GIF itu saya malah teringat akan band lain milik Indra Lesmana: Java Jazz. Seorang rekan saya kaget ketika saya memperlihatkan kaset Java Jazz. "Ada band bernama Java Jazz?" katanya heran. Ini tentu harus dimaklumi karena band ini telah lama menghilang dari scene Jazz. Lebih dari 11 tahun menghilang dari musik Indonesia. Malam itu setelah melihat foto GIF saya mengucapkan selamat ulang tahun untuk Tante Nien Lesmana lewat Facebook Indra Lesmana, Mira Lesmana, dan Hanny Lesmana. Rasanya waktu ingin berbalik, ingin berada di rumah keluarga Lesmana dan ikut melihat keakraban ulang tahun dari seorang wanita terhormat yang suami dan anak-anaknya telah memberi warna pada indahnya musik (lewat Indra Lesmana) dan film Indonesia (lewat Mira Lesmana). Keluarga yang ikut mencetak generasi Jazz baru di musik Indonesia. Namun saya tergelitik untuk mengirim pesan pribadi ke inbox Indra Lesmana. Selain mengucapkan selamat ulang tahun ke ibunya saya juga menanyakan apakah mungkin album Java Jazz menjadi bonus CD di Rolling Stone. Saya menanyakan kepemilikan master album tersebut. "Master tersebut milik saya, ok akan saya pertimbangnkan tawaran tersebut." Beberapa hari kemudian Indra Lesmana mengirim pesan ke inbox saya: Adib, Kapan bisa bertemu untuk follow up your offer about having Java Jazz for Rolling Stone. Thanks, Indra Lesmana. Terjadilah pertemuan tersebut. Indra dan Hanny Lesmana hadir ke Rolling Stone Indonesia. Pertemuan di hari Jumat itu sangat menyenangkan. Indra Lesmana dan istrinya banyak memberi cerita tentang sejarah Java Jazz dan kegelisahan-kegelisahan lain yang menjadi kendala Java Jazz. Termasuk saat merekam demo pertama Java Jazz di Amerika atas bantuan Chick Corea. Saat itu album Java Jazz tidak segera rilis karena Indra dan Gilang harus segera masuk rekaman untuk merampungkan band Adegan dengan Musica Studioís. Java Jazz kemudian berganti personel karena personel lain sibuk. Termasuk cerita saat Java Jazz main di North Sea Jazz Festival dengan personel baru. Saat itu nama gitaris Dewa Budjana, bassis Jeffrey Tahalele ikut dalam line-up dan drummer Cendy Luntungan. Namun yang membuat saya kaget pada pertemuan sore itu adalah keinginan Indra Lesmana untuk mengumpulkan kembali personel Java Jazz. "Rasanya tanggung kalau Rolling Stone hanya akan memberikan materi Java Jazz kepada pembacanya. Kami ini masih berada di industri kreatif dan masih berkarya. Saya berkeinginan untuk melakukan reuni dengan Java Jazz." Saat itu pandangan mata Indra Lesmana tak berkedip menatap panggung di Rolling Stone Live Venue. Ini sama persis saat Fariz RM setahun lalu melihat panggung Rolling Stone Live Venue dan berkeinginan membuat konser. Konser yang kemudian terwujud dan menjadi come back Fariz RM yang berhasil. Tentu ini menjadi sebuah ide yang sangat luar biasa. Java Jazz reuni. Indra Lesmana yang saat ini telah merampungkan album kompilasi bertajuk Kembali Satu yang menampilkan para alumni Indonesia Idols yang tak terikat kontrak dengan label tampak sangat semangat sekali dengan ide reuni Java Jazz. "Terus terang kami kehilangan dengan meninggalnya Mas Embong. Tidak ada yang bisa menggantikan beliau. Saya terpikirkan untuk mengganti peran Embong Rahardjo dengan Dewa Budjana. Jadi line up reuni Java Jazz kemungkinan akan terdiri dari duet gitaris Donny Suhendra dan Dewa Budjana. Selebihnya masih ada perosnel lain, Gilang Ramadhan, Mates dan saya sendiri." Rasanya mimpi untuk segera melihat karya-karya besar mereka seperti "The Seekers", "Bulan Diatas Asia", "Crystal Sky" dan "Dodon" akan terobati. Bahkan dengan personel Java Jazz yang belum pernah muncul di publik. Tentunya panggung pertama Java Jazz ini Rolling Stone Live Venue akan mendapat kehormatan menjadi saksi pertama. "Saya akan membantu Rolling Stone Indonesia dalam menghadapi kendala yang kurang baik tentang sound nantinya," janji Indra Lesmana sore itu. Kami juga sepakat berniat membuat komunitas baru Jazz lewat panggung netral Rolling Stone Live Venue untuk menyatukan generasi lintas usia Jazz. Ide kami bergulir juga untuk membuat konser akbar Tribute to Jack Lesmana yang menampilkan para anak murid Jack Lesmana di tahun 2009 ini juga. Java Jazz Kembali Satu. Seperti halnya album terbaru Indra Lesmana bertajuk Kembali Satu yang juga menjadi single perdana bagi kompilasi yang sudah siap edar ini. Indra Lesmana, musisi yang pernah merekam album For Earth and Heaven di Amerika bersama Jimmy Haslip, Vinnie Colaiuta, Michael Landau, Airto Moreira di tahun 1985 ini sudah seharusnya kembali menghidupan band-band besarnya. Java Jazz adalah awal. Bisa jadi kemudian band Indra Lesmana lain seperti PIG (Pra Budidarma, Indra Lesmana), GIF (Gilang Ramadhan, Indra Lesmana, Fariz RM), dan Krakatau akan kembali satu. www.rollingstone.co.id

back to top