news

04.10.2017 3:44 PM - MEIER BUDJANA GROUPNICOLAS MEIER guitar • DEWA BUDJANA guitarJIMMY HASLIP bass • ASAF SIRKIS drums • SAAT SYAH flute TOUR DATESOctober...
30.07.2017 12:03 AM - Motion Blue Jakarta...
05.07.2017 10:47 AM - August 23, 2017, 8:00 pm to 9:15 pm, 10:15 pm to 11:30 pmPaul McCandless and Charged ParticlesMotion Blue Jakartawith Special...
26.02.2017 1:32 PM - Feat:  Shadu Rasjidi, Demas Narawangsa, Marthin Siahaan, Irsa Destiwi, Rega Dauna, Saatsyah...
22.11.2016 10:43 AM - db will perform all tunes from his newest (double) studio album 'Zentuary' with his Indonesian band (Saat Syah, Shadu...
09.10.2016 8:46 PM - https://www.facebook.com/Favorednationsentertainment New studio album (2CD & 3LP 180 grams vinyl made from HD 24 bit/96khz master) of the iconic Balinese guitarist...
Album Terbaru Dewa Budjana "Home"
08.12.2005 4:21 PM
Menyimak album solo Dewa Budjana paling gres "Home," kita seperti membuka lembar demi lembar buku hariannya. Di sana kita bisa membaca isi hati, buah pikir, serta kepeduliannya tiga tahun terakhir ini. Jika dalam kesehariannya di GIGI kita melihatnya sebagai sosok yang senang bercanda, bahkan paling usil di antara mereka, di "Home" kita melihat Budjana yang sama sekali lain. Budjana yang menyepi berkontemplasi. Budjana yang berempati pada penderitaan sesama, pada Aceh dan Bali yang porak-poranda, serta pada tanah impian. Agak mengherankan melihat hasil kontemplasinya itu, khususnya bagi kita yang sehari-hari melihat kesibukan luar biasa Budjana bersama GIGI, serta "kerepotannya" bermain dengan Devananda, buah hatinya yang baru 1,5 tahun. (Budajana bersama Bora, istrinya, memutuskan untuk membesarkan sendiri anak mereka alias jadi baby sitter). Tentang Bali yang untuk kedua-kalinya dihajar bom serta Aceh yang hancur akibat tsunami Budjana berujar: Home is where the heart is, some say. For others, it is where the hurt is. But be it the source of joy or pain, each of us must long for a familiar place, a place to go back to …a sanctuary. Many have lost that very place, like our brothers and sisters, the victims of tsunami. Others' homes continue to be hit by savage attacks, including the recent tragedy in my hometown Bali. Ekspresi bermusik Budjana tentang kehancuran Aceh akibat Tsunami 26 Desember 2004 bisa kita rasakan dalam "Lost Paradise," "Malacca Bay," serta "Dancing Tears." Sedangkan empatinya pada kampung halamannya yang terpuruk akibat bom dilantunkannya dalam "Tempel Island," dan "Dancing Tears." Berbeda dengan "Lost Paradise," pada "Malacca Bay," melodi dibuat lebih up beat untuk memberi semangat korban tsunami dalam menatap masa depan, sekaligus ajakan untuk melupakan kesedihan dan penderitaan masa lalu. Kecintaan Budjana pada kampung halamannya tidak diragukan lagi. Itu pula yang membawanya datang ke Bali sesaat setelah Bom Bali Oktober 2002 meledak. Saat itu dia mengajak serta Armand, Chrisye, Kaka Slank, Kanton, Bondan, dan beberapa manajer artis —termasuk Dhani Pette, manajer GIGI— mewakili Amari (Asosiasi Manajer Artis Indonesia). Menghantar sumbangan, menjenguk korban di RS Sanglah, bahkan membuka kantung mayat korban bom yang sudah tidak berbentuk lagi. Budjana memang tipe orang yang cepat bertindak. Pada "Temple Island" , Budjana merasakan dalamnya kesedihan masyarakat Bali, yang baru saja bangkit dari keterpurukan akibat Bom Bali 1, lalu dihantam oleh bom ke dua. "Namun betapa luluh lantaknya Bali, tidak pernah bisa menahan gue untuk pulang ke sana." Sementara itu perasaan galaunya saat mendengar berbagai bencana yang terus melanda Indonesia, diungkapkannya dalam "Dancing Tears." "Dreamland" yang dibuat saat tur ke USA bersama GIGI Mei 2005, secara kritis menyoroti sikap sebagian orang yang mengganggap Amerika Serikat sebagai tanah impian. Banyak memang yang dijanjikan negeri Paman Sam itu, tetapi bagi Budjana, tanah impian itu selamanya adalah Bali. Dua lagu lain adalah "Bunga yang Hilang." Lagu lama dari album pertamanya "Nusa Damai", yang dibuatnya tahun 1997. Serta "Devananda" yang memotret kebahagiaan Budjana setelah kelahiran buah hatinya. Secara khusus dia menulis: "Banyak orang bilang anak itu pemberian terbaik. Gue baru bisa merasakanya setelah Devananda lahir. Membayangkan tawa-lepasnya membuat gue pingin cepat pulang ke rumah." Album Solo ke-4 "Home" adalah album solo ke-4 Budjana setelah "Nusa Damai" (1997), "Gitarku" (2000), dan "Samsara" 2003. "Saat ini dalam tahap akhir mixing dan siap diluncurkan. Tapi semua tergantung SONY-BMG. Kalau diluncurkan tahun depan, berarti siklus album solo gue tiap 3 tahun." Budjana tampak gembira dan bersemangat setiap diajak bicara tentang album solo barunya itu. "Gue tidak tahu apakah album gue ini bisa diterima masyarakat atau tidak, tetapi bagi gue ini kepuasan yang tidak ternilai harganya. Ini ekspresi total gue." Di "Home" Budjana dibantu oleh Peter Erskine (drums), Dave Carpenter (bass), dan Reggie Hamilton (ass). Musisi lain yang dilibatkan Andi Rianto (keyboards), Indra Lesmana (keyboards), Bang Saat (suling bamboo, voice), Jalu (perkusi), Ubiet "Nya Ina Raseuki" (voice), Dian Pramana Putra (voice), Nyoman Windha (gangsa, gamelan). Secara khusus dia juga memasukkan tangis Devananda pada lagu "Devananda." Hampir seluruh proses pembuatan album ini dikerjakan sendiri oleh Budjana, termasuk sebagai produser dan komposer dan arranger. Manajernya tetap dipegang Dhani Pette. Sebagian proses rekaman dilakukan di Puck Std, Santa Monica, yaitu pada 19 Mei (Temple Island/Bunga yang Hilang, Dreamland/Lost Paradise), dan 18 Agustus 2005 (Dancing Tears/Malacca Bay/On The Way Home), di sela-sela tur GIGI di AS. "Gue banyak sekali dibantu teman-teman, sampai gue bingung menulis thank's to. Untuk itu gue sangat berterima kasih. Albert dari Megapro bahkan memberikan fotonya untuk cover kaset/CD gue. Gue tidak tahu bagaimana membalas kebaikan itu." (*)

back to top